Asal-Usul Oi Wontu di Soro

Oleh: Suhardin Deo

Alkisah, diceritakan dari mulut ke mulut bahwa di Tanah Bima, ketika agama Islam baru mulai disebarkan, desa-desa di Kecamatan Sape (sekarang menjadi kecamatan Lambu setelah pemekaran) mengalami kemarau panjang yang mencekik. Tanah-tanah retak, sungai mengering, dan kelaparan melanda. Di tengah penderitaan itu, seorang dai (pendakwah) datang ke desa Sumi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, penduduk desa yang diliputi keputusasaan mengabaikan ajakan tersebut. Mereka mengajukan sebuah syarat, "Tuan, jika engkau bisa mendatangkan 'mataair' untuk kehidupan kami, maka kami akan mengikuti ajaranmu."

Sang dai, dengan penuh keyakinan dan atas izin Allah, menancapkan tongkatnya ke tanah yang tandus. Seketika, dari bekas tancapan tongkat itu, memancarlah 'mata air' yang begitu deras dan melimpah ruah. 'Mata Air' itu tak terbendung, mengalir bagaikan sungai dan nyaris menyebabkan banjir besar di seluruh desa Sumi dan sekitarnya.

Melihat dahsyatnya mata air yang keluar, penduduk desa menjadi panik. Mereka mendatangi sang dai dan memohon agar 'mata air' itu dihentikan. Sekali lagi, atas izin Allah, sang dai menancapkan tongkatnya untuk kedua kalinya. Ajaibnya, 'mataair' yang tadinya meluap kembali surut dan masuk ke dalam lubang yang dibuatnya, lalu membentuk sebuah sumur.

Sumur itu kemudian dikenal dengan nama Temba Romba. "Temba" berarti sumur, dan "Romba" berarti tembaga. Konon, karena gesekan 'mataair' yang begitu deras saat kembali masuk ke dalam sumur, dinding sumur yang semula berupa tanah berubah menjadi tembaga. 'mataAir' dari sumur Temba Romba ini mengalir melalui saluran bawah tanah sepanjang tujuh kilometer, hingga akhirnya bermuara di sebuah goa di kawasan antara 'panta paju' dengan 'pantai LARITI', desa Soro. Di sanalah -mataair- itu keluar, membentuk sebuah sungai kecil yang sejuk, jernih, dan bersih, yang kemudian diberi nama Oi Wontu, Oi berarti 'aair' dan WONTU berarti tiba atau sampai. Jadi oi WONTU artinya "aair-" yang tiba atau sampai.

Hingga saat ini, masyarakat Sumi memiliki keyakinan kuat bahwa ada hubungan fisik antara kedua tempat ini. Mereka percaya bahwa jika mulut Oi Wontu ditutup, maka "aair" dari Temba Romba akan meluap kembali dan menyebabkan banjir besar di desa Sumi.

Kini, selain sebagai bagian dari cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, Oi Wontu juga dianggap memiliki potensi besar. Aairnya yang jernih dan tak pernah kering menjadikannya sumber 'aair' bersih yang ideal. Lokasinya yang berdekatan langsung dengan pantai, lengkap dengan panorama hutan mangrove yang hijau, juga menjadikan Oi Wontu destinasi wisata alam yang menjanjikan, baik untuk rekreasi, berenang, memancing, maupun budidaya ikan. [Deo]