KIAT MENJADI GURU BERWIBAWA (TANPA HARUS GALAK) BERDASARKAN PRINSIP KEPEMIMPINAN NGGUSUWARU Oleh: Suhardin, S.Pd., MM
KIAT MENJADI GURU BERWIBAWA (TANPA HARUS GALAK) BERDASARKAN PRINSIP KEPEMIMPINAN NGGUSUWARU
Oleh: Suhardin, S.Pd., M.M.
Wibawa seorang guru tidak lahir dari bentakan atau rasa takut yang ditanamkan di ruang kelas. Wibawa sejati adalah pancaran dari integritas, keluasan ilmu, ketulusan, serta keteguhan prinsip moral. Dengan memadukan delapan sendi kearifan lokal budaya Bima (Nggusuwaru) ke dalam praktik profesional sehari-hari, berikut adalah kiat menjadi guru berwibawa yang aplikatif dan bermakna:
1. Bersikap lemah lembut tetapi tegas menegakkan aturan
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 4 - Lembo Ade Ro Ma na'e Saba): Ketegasan dalam menegakkan aturan harus dibalut dengan lapang dada dan kesabaran (lembo ade), bukan dengan amarah atau kekerasan emosional.
b. Implementasi: Wibawa lahir dari konsistensi. Buat aturan yang jelas sejak hari pertama, lalu tegakkan dengan kepala dingin dan sikap yang menenangkan.
2. Sejalan antara ucapan dengan tindakan (integritas)
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 5 - Ndinga Nggahi Rawi Pahu): Keselarasan mutlak antara apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat (ndinga nggahi rawi pahu).
b. Implementasi: Jika kita meminta murid disiplin waktu, maka kehadiran guru di kelas harus menjadi teladan utama. Murid jauh lebih cepat menilai dari contoh nyata ketimbang nasihat lisan.
3. Menguasai kelas, bukan berteriak di kelas
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 2 - 'Bae Ade / Berilmu): Penguasaan kelas yang matang bersumber dari kedalaman ilmu pedagogi dan strategi pengelolaan pembelajaran yang cerdas.
b. Implementasi: Kontrol kelas dibangun lewat strategi ruang: penataan posisi berdiri, kontak mata yang tajam, hingga penggunaan jeda bicara. Diam yang bermakna jauh lebih efektif daripada teriakan (ingat kembali 8 Keterampilan Dasar Mengajar).
4. Semua Murid diperlakukan secara adil
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 1 - Maja Labo Dahu di Ruma Allah Ta’ala): Keadilan ditegakkan atas dasar rasa takut dan takwa kepada Allah, menjadikan guru amanah terhadap setiap peserta didiknya.
b. Implementasi: Perlakukan seluruh murid secara adil tanpa pilih kasih. Murid memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap rasa keadilan, dan di sinilah wibawa seorang guru diuji serta diakui.
5. Menegur pada perilaku, bukan pada harga diri
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 6 - Taho Hi'di ro Londo Dou Ma Taho): Menjaga keluhuran budi pekerti dalam memperlakukan manusia sebagai makhluk yang bermartabat.
b. Implementasi: Koreksi pelanggaran atau kesalahan murid secara objektif pada perbuatannya, hindari melukai harga diri atau merendahkan mereka di depan umum. Murid yang dihargai martabatnya akan tumbuh rasa hormat dan kepatuhan tulus.
6. Tahu batas yang posisi yang jelas terhadap murid
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 3 - Mbani La'bo Disa): Keberanian moral untuk menjaga prinsip profesional tanpa terseret arus atau kehilangan batasan wibawa.
b. Implementasi: Menjadi guru yang ramah dan dekat dengan siswa itu penting, namun batasan profesional harus tetap terjaga. Terlalu akrab tanpa batas justru berisiko mengikis rasa hormat mereka.
7. Percaya diri dengan peran sebagai guru
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 7 - 'Di Ou Ro Ma 'Di Woha Dou): Menjadi sosok teladan yang kehadirannya di kelas dirindukan dan memberikan dampak positif yang kuat bagi peserta didik.
b. Implementasi: Berdirilah di depan kelas dengan penuh rasa percaya diri. Kita hadir sebagai fasilitator masa depan bangsa, bukan sekadar mencari popularitas agar disukai oleh semua siswa.
8. Tetap konsisten (Istiqamah) dalam kebaikan
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 5 - Ndinga Nggahi Rawi Pahu): Konsistensi perilaku yang ajeg dari waktu ke waktu sebagai wujud integritas yang utuh.
b. Implementasi: Wibawa tidak dibangun dalam satu malam. Ia terbentuk dari akumulasi sikap konsisten yang ditunjukkan secara terus-menerus dalam setiap situasi pembelajaran.
9. Bersikap tenang menghadapi kritikan dan tekanan
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 4 - Lembo Ade Ro Ma na'e Saba): Ketahanan mental, kesabaran, dan kelapangan dada saat menghadapi dinamika kelas yang menguji kesabaran.
b. Implementasi: Guru yang tidak mudah terpancing emosi, tidak mudah tersinggung, dan mampu merespons tekanan dengan kepala dingin akan terlihat jauh lebih kuat dan berwibawa di mata murid.
10. Mengajar dan mendidik dengan tulus, tanpa pamrih
a. Korelasi dengan Prinsip Nggusuwaru (Poin 8 - Ntau Ro Wara): Memaknai profesi bukan sekadar sarana mencari materi, melainkan sebagai ladang pengabdian untuk berbagi kebaikan dan menebar manfaat.
b. Implementasi: Murid memiliki radar batin yang tajam untuk membedakan mana guru yang tulus mendoakan serta mendampingi mereka, dengan guru yang sekadar menggugurkan kewajiban jam mengajar.
Kesimpulan:
Guru yang berwibawa itu bukan yang ditakuti karena galaknya, melainkan yang dihormati karena keteladanan, keadilan, dan ketulusan hatinya. Mengajar dengan benar-benar menyentuh jiwa (guru Mursyid) tentu membutuhkan tenaga ekstra, kesabaran tanpa batas, serta keikhlasan yang mendalam.[DeoLariti]