DEKONSTRUKSI FENOMENA PENYIMPANGAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN SISWA: ANALISIS MULTIDISIPLIN TEOLOGI ISLAM, PSIKOLOGI, SOSIOLOGI, DAN REKONSTRUKSI MORAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL BIMA (MAJA LABO DAHU, TAMBULATE, DAN NGGUSUWARU) Oleh: Suhardin, S.Pd., M.M.
DEKONSTRUKSI FENOMENA PENYIMPANGAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN SISWA: ANALISIS MULTIDISIPLIN TEOLOGI ISLAM, PSIKOLOGI, SOSIOLOGI, DAN REKONSTRUKSI MORAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL BIMA (MAJA LABO DAHU, TAMBULATE, DAN NGGUSUWARU)
Oleh: Suhardin, S.Pd., M.M.
ABSTRAK
Infiltrasi fenomena penyimpangan seksual, seperti perilaku laki-laki menyerupai perempuan (waria/tasyabbuh) dan hubungan sesama jenis antarperempuan (lesbian/sahaq), kini mulai merambah ranah usia sekolah (SD, SMP, hingga SMA). Fenomena ini membawa ancaman serius terhadap tumbuh kembang karakter, tatanan moral, dan masa depan generasi muda. Kajian ilmiah dan komprehensif ini menganalisis fenomena tersebut melalui tinjauan integratif: Teologi Islam, Psikologi Perkembangan, Sosiologi Pendidikan, serta kearifan lokal Bima, khususnya prinsip "Maja Labo Dahu", doktrin "Tambulate", dan delapan pilar "Nggusuwaru. Artikel ini memformulasikan solusi holistik berbasis sekolah, keluarga, dan budaya untuk memitigasi serta meremediasi penyimpangan perilaku seksual di kalangan peserta didik.
I. PENDAHULUAN
Dunia pendidikan saat ini tidak hanya dihadapkan pada tantangan akademis dan digitalisasi, tetapi juga krisis pembentukan karakter dan identitas diri peserta didik. Penetrasi informasi tanpa filter melalui media sosial telah mempercepat pergeseran persepsi moral anak usia sekolah (SD, SMP, dan SMA). Salah satu ancaman paling nyata adalah ditemukannya indikasi perilaku penyimpangan seksual di lingkungan pelajar, baik berupa waria (pria menyerupai wanita baik secara gestur, busana, maupun identitas) maupun lesbian (kecenderungan dan hubungan sesama jenis antarperempuan).
Pada usia SD hingga SMA, anak berada pada fase krusial pembentukan identitas gender (gender identity) dan identitas diri (self-identity). Pembiaran terhadap perilaku devian pada fase ini dapat merusak struktur psikologis anak, memicu disorganisasi sosial di sekolah, serta menentang norma agama dan budaya. Dalam konteks masyarakat Bima (Mbojo) yang memegang teguh filosofi "Adat berbasis Syara’, Syara’ berbasis Kitabullah", fenomena ini memerlukan langkah preventif, kuratif, dan edukatif yang komprehensif.
II. TINJAUAN MULTIDISIPLINER PENYIMPANGAN SEKSUAL DI KALANGAN SISWA
1. Tinjauan Teologi Islam: Menjaga Fitrah Anak dan Peringatan Kehancuran Peradaban
Dalam doktrin Islam, anak adalah amanah yang lahir di atas fitrah yang suci. Menyimpangkan fitrah gender dan orientasi seksual anak merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah SWT (sunnatullah).
a. Pelajaran dari Sejarah Kehancuran Kaum Devian: Al-Qur'an secara tegas mengisahkan bagaimana kehancuran menimpa peradaban yang membangkang terhadap fitrah. "Kaum Tsamud" dihancurkan oleh suara mengguntur yang dahsyat akibat kesombongan dan pendurhakaan, sedangkan "Kaum Sodom/Lut" dibalikkan buminya dan dihujani batu berapi akibat praktik penyimpangan seksual sesama jenis. Peringatan sejarah ini menegaskan bahwa pembiaran terhadap perilaku maksiat yang dianggap "sepele" atau "tren" di kalangan muda dapat mengundang bahaya moral dan spiritual yang sistematis.
b. Larangan "Tasyabbuh" dan "Sahaq" pada Usia Dini: Rasulullah SAW melarang keras tindakan laki-laki yang menyerupai perempuan (mutasyabbihin) dan perempuan yang menyerupai laki-laki (mutasyabbihat). Pembiasaan gestur, gaya bahasa, atau penampilan menyerupai lawan jenis pada anak SD-SMA yang dibiarkan tanpa koreksi akan mengkristal menjadi identitas permanen yang merusak garis keturunan (hifzh an-nasl) dan syariat agama.
2. Tinjauan Psikologis: Krisis Perkembangan dan Pengaruh Lingkungan
Dari ranah psikologi perkembangan, munculnya kecenderungan waria atau lesbian pada peserta didik tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor dinamika internal dan eksternal.
a. Faktor Pola Asuh dan Figur Teladan: Anak SD dan SMP yang mengalami kelangkaan figur ayah (fatherless) atau figur ibu (motherless) sering kali kehilangan panutan peran gender (gender role model) yang seimbang.
b. Trauma Masa Kecil dan Perundungan: Pengalaman menjadi korban kekerasan seksual, pengasuhan yang serba terbalik, atau perundungan (bullying) dapat memicu disforia gender dan penolakan terhadap identitas biologisnya sendiri.
c. Kondisioning Media dan Peer Group (Siswa SMA): Pada jenjang SMA, pengaruh kelompok sebaya (peer group) dan paparan konten media sosial yang mengatasnamakan "kebebasan ekspresi" atau "tren" kerap memvalidasi eksperimentasi perilaku sesama jenis.
3. Tinjauan Sosiologis: Kontagion Sosial dan Anomie Sekolah
Secara sosiologis, sekolah merupakan agen sosialisasi sekunder setelah keluarga. Ketika nilai-nilai moral melonggar, terjadi fenomena "penularan sosial" di kalangan siswa.
a. Normalisasi Deviasi: Penularan perilaku lesbian atau waria kerap dimulai dari pola interaksi kelompok kecil di sekolah yang menganggap perilaku tersebut sebagai simbol "kererenan", penanda keakraban berlebihan, atau bentuk pelarian dari tekanan emosional.
b. Anomie di Lingkungan Pendidikan: Jika pihak sekolah dan masyarakat tidak bersikap tegas, akan timbul kondisi "anomie", yaitu ketidakjelasan standar nilai dan norma di mana perilaku menyimpang dianggap sebagai hal wajar, sehingga merusak iklim belajar dan norma kesusilaan secara umum.
III. REKONSTRUKSI KEARIFAN LOKAL BIMA (MBOJO) SEBAGAI BENTENG MORAL SISWA
Masyarakat Bima memiliki warisan kebudayaan luhur yang secara spesifik dirancang untuk membentuk kepribadian mulia. Nilai-nilai ini sangat relevan dijadikan kurikulum karakter untuk mencegah penyimpangan seksual pada pelajar.
1. Falsafah "Maja Labo Dahu"
Maja Labo Dahu (Malu dan Takut) harus diinternalisasikan sejak dini pada jiwa setiap siswa Bima.
a. Maja (Malu): Mendidik siswa agar memiliki rasa malu pada diri sendiri, guru, orang tua, dan teman apabila berpenampilan, berperilaku, atau berorientasi tidak sesuai fitrah biologisnya.
b. Dahu (Takut): Menanamkan rasa takut akan sanksi moral, kemurkaan Allah SWT, serta rusaknya masa depan akibat terjerumus dalam perilaku devian.
2. Doktrin "Tambulate"
Tambulate bermakna kehati-hatian, pembatasan diri, dan ketegasan. Dalam konteks peserta didik, doktrin ini mengajarkan siswa untuk menjaga batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, tidak melampaui etika kesusilaan, serta mampu memfilter pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan norma lokal dan agama.
3. Falsafah "Nggusuwaru" (Delapan Karakter Utama Siswa Unggul)
Falsafah "Nggusuwaru" memuat delapan pilar pembentukan karakter ideal yang bertolak belakang dengan perilaku penyimpangan seksual:
a. Dou ma maja labo dahu di Ndai Ruma Allah Ta'ala (Taqwa dan Malu kepada Allah SWT)
Siswa yang beriman memahami bahwa tubuh dan identitasnya adalah amanah Allah yang harus dijaga sesuai fitrah penciptaan.
b. Dou ma 'bae ade (Cerdas, Berilmu, dan Bijaksana)
Siswa yang berilmu mampu berpikir kritis dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpengaruh tren penyimpangan seksual.
c. Dou ma mbani la'bo disa (Pemberani dan Tangguh)
Keberanian sejati bagi seorang siswa adalah berani menolak ajakan pergaulan menyimpang dan tegas mempertahankan prinsip kebenaran.
d. Dou ma lembo ade ro mana'e saba (Penyabar dan Lapang Dada)
Siswa belajar bersabar menghadapi krisis emosional, tekanan pergaulan, atau trauma tanpa harus mencari pelarian negatif.
e. Dou ma ndinga nggahi rawi pahu (Konsisten antara Kata, Perbuatan, dan Identitas)
Siswa memiliki keteguhan integritas; laki-laki tampil dan berperilaku sebagai laki-laki sejati, demikian pula perempuan.
f. Dou ma taho hi'di atau londo dou ma taho (Berpenampilan Baik dan Menjaga Nama Baik Keturunan)
Siswa bangga berpenampilan sopan sesuai identitas gender biologisnya dan menjaga nama baik keluarga (londo dou ma taho).
g. Dou ma 'di ou ro ma 'di woha dou (Bermanfaat dan Diharapkan Kehadirannya)
Siswa menjadi teladan positif (peer leader) di sekolah yang menginspirasi teman-temannya dalam kebaikan.
h. Dou ma ntau ro wara (Kaya Jiwa, Kehormatan, dan Prestasi)
Kekayaan sejati bagi pelajar adalah kekayaan mental, kehormatan diri, dan prestasi akademis maupun non-akademis.
IV. STRATEGI SOLUSI INTEGRATIF DI LINGKUNGAN SEKOALAH DAN MASYARAKAT
Untuk mengatasi dan menanggulangi kecenderungan penyimpangan seksual pada siswa SD, SMP, dan SMA, diperlukan kolaborasi terstruktur melalui pendekatan berikut:
1. Solusi Berbasis Teologi Islam
a. Penguatan Akidah dan Pembiasaan Ibadah di Sekolah: Mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dan fiqih pergaulan dalam kegiatan Pembinaan Imtaq rutin di sekolah (SD, SMP, SMA).
Pendekatan Humanis dan Edukatif: Mengubah pola perundungan (bullying) terhadap siswa yang terindikasi waria atau lesbian menjadi bimbingan kerohanian yang penuh kasih sayang untuk meruntuhkan kesesatan berpikir mereka dan membimbing pertobatan.
2. Solusi Berbasis Psikologis (Peran Guru BK dan Orang Tua)
a. Layanan Konseling Spesifik (Individual Counseling): Guru Bimbingan Konseling (BK) bekerja sama dengan psikolog untuk melakukan identifikasi awal (assessment) dan terapi pemulihan trauma bagi siswa yang mengalami disforia gender atau kecenderungan sesama jenis.
b. Edukasi "Parenting" dan Figur Teladan: Membina komunikasi intensif dengan orang tua murid agar menghadirkan pola asuh yang seimbang dan memberikan keteladanan peran gender yang jelas di rumah.
3. Solusi Berbasis Sosiologis dan Kebijakan Sekolah
a. Penyusunan Tata Tertib Sekolah yang Tegas: Membuat regulasi sekolah yang melarang keras ekspresi busana, gestur, maupun pembentukan komunitas/geng yang mengarah pada penyimpangan seksual.
b. Pengawasan Literasi Digital dan Komunitas Positif: Mengedukasi siswa mengenai bahaya konten penyimpangan seksual di media sosial serta mengarahkan energi siswa ke kegiatan ekstrakurikuler (Pramuka, Olahraga, Seni, Rohis).
4. Solusi Berbasis Kearifan Lokal Bima
a. Gerakan "Maja Labo Dahu" Masuk Sekolah: Menggelar deklarasi dan penguatan nilai Maja Labo Dahu dalam pembiasaan budaya sekolah setiap hari.
b. Transformasi Karakter Melalui "Nggusuwaru": Menjadikan delapan kriteria "Nggusuwaru" sebagai instrumen penilaian sikap dan karakter siswa, sehingga siswa bangga menjadi pribadi yang bertakwa (dou ma maja labo dahu), berilmu (dou ma 'bae ade), serta konsisten menjaga martabat diri dan keluarganya (londo dou ma taho).
V. KESIMPULAN
Penyimpangan seksual seperti "waria" dan "lesbian" di kalangan pelajar (SD, SMP, SMA) adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi bangsa. Penanganannya tidak cukup hanya dengan hukuman fisik atau pengucilan, melainkan membutuhkan pendekatan multidisipiner yang menyentuh akar masalah. Sinergi antara pemahaman teologi Islam yang lurus, pendampingan psikologis yang bijaksana, pengawasan sosiologis yang terstruktur, serta pembentukan karakter berbasis kearifan lokal Bima (Maja Labo Dahu, Tambulate, dan Nggusu Waru) akan menjadi benteng pertahanan terkuat.
Sebagai pendidik, tugas kita adalah menjaga fitrah para peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, bertradisi luhur, serta siap memimpin peradaban masa depan dengan martabat yang utuh.[DeoLariti]